Yang Penting Bayar Uang Kost, Kami Bebas Ngamar Hingga Berhubunangan Seks

Fastbet99 –  Sebut saja namanya Mimin. Dia tercatat sebagai mahasiswi tahun keempat di sebuah kampus terkenal di Sulawesi Utara.

Sejak masuk dunia kampus, Mimin yang berasal dari sebuah kampung di Minahasa Utara tinggal di rumah kos dekat kampus.

Di hari pertama mulai ngekos, sang ibu didampingi kakak sulungnya mengantar langsung Mimin, sekaligus mengecek kondisi kos-kosan tersebut. Kesan pertama, kos-kosan dua lantai dengan belasan kamar tersebut terkesan ada pengawasan ketat.

Berbagai peraturan, ditempel di pintu masuk dan beberapa sudut lainnya. Sang ibu kos pun menyambut dengan wajah seram dan menekankan peraturan kos yang ketat. Untuk alasan itu pula, orangtua Mimin setuju ia tinggal di situ.

Tahun pertama Mimin kuliah, semuanya berjalan baik, sesuai harapan orangtuanya. Sampai suatu waktu, ia bertemu dengan seorang laki-laki di satu organisasi yang kemudian menjadi pacarnya.

Awalnya, sang pacar hanya berkunjung ke rumah kos Mimin di jam-jam tertentu sesuai peraturan. Hingga pada akhirnya, keduanya telah tinggal satu kamar di kosan Mimin.

Kepada FastBet99Group, Rabu (21/12/2016) Mimin mengatakan, semua peraturan yang diberikan waktu awal masuk kos ternyata tak berlaku semua. Yang penting bayar kos lancar, ibu kos tak pusing aktivitas apa saja yang dilakukan para penghuninya.

“Yang penting bayar kos. Ibu kos hanya datang sesekali, untuk menagih. Sisanya dia tinggal di rumahnya. Lagi pula di sini ada anak kos yang dipercaya untuk menagih uang kos pada kami,” ujar wanita berambut pendek ini.

Mimin mengaku, gaya pacarannya dengan pacarnya sekarang ini sudah seperti suami istri termasuk berhubungan layaknya suami istri.

“Kami sudah tinggal bersama. Makan saling ngurus, cuci baju dan lainnya. Dan semua-muanya. Kamar saya juga dipenuhi barang-barang pacar saya. Uang saya, juga uangnya. Begitu juga sebaliknya. Yang penting ada buat makan,” ucap Momon.

Di Kos-kosan Ini Kami Bebas Ngamar Hingga Berhubunangan Seks, Asal Bayar
Mimin masih aktif kuliah, sementara pacarnya sudah tak lagi. Sehingga lebih banyak menghabiskan waktu di kosan. Juga organisasi kampus yang diikuti keduanya. Kalau sedang tak sibuk, keduanya hanya tinggal di kosan.

“Kami lebih banyak tinggal di kos, kalau saya tak ada kelas,” tuturnya.

Kondisi Mimin di kos seperti itu, tak diketahui orangtua serta kakak-kakaknya. Dulu mereka pernah tahu Mimin pacaran dengan pria yang menjadi pacarnya sekarang.

Dan itu mendapat penolakan keras dari keluarganya karena pacarnya itu dinilai membawa pengaruh buruk baginya. Karena takut, Mimin pun mengaku ia tak lagi pacaran dengannya.

“Keluarga saya tahu, kalau saya tak pacaran dengannya. Jadi bisa dikatakan kami sekarang backstreet. Dia juga memang bukan asli sini, dia datang dari Makassar. Jauh dari orangtua juga,” tuturnya.

Suatu waktu, saat sedang berduaan di kamar dengan pacarnya, kakak Mimin telepon. Mengatakan bahwa mereka sudah dalam perjalanan ke kos Mimin. Mampir sebentar, setelah dari tujuan mereka. Mengetahui itu, keduanya kaget bukan kepalang.

“Kami panik. Saya lalu menghubungi teman saya untuk pinjam kamarnya sebentar, untuk didatangi kakak saya. Berpura-pura kalau itu kamar saya. Secepat kilat saya langsung mengangkut barang-barang saya. Untung waktunya tepat. Pas kakak saya datang, kamar sudah siap menyambutnya,” ujarnya lalu tertawa.

Rumah kos yang membebaskan penghuninya tinggal bersama tak resmi juga ada di kawasan Sario, Manado.

Sebenarnya, dari segi fasilitas, rumah kos itu bukan yang terbaik. Harganya pun sama dengan umumnya rumah kos lainnya. Namun rumah kos itu laris manis karena kebebasan yang diberikan pemilik kos.

Mumun, sebut saja demikian, seorang karyawan swasta yang pernah kos di rumah tersebut menuturkan, tak ada larangan membawa pacar di tempat kos itu.

“Di sana boleh bawa pacar,” ujarnya.

Mumun mengaku pernah hidup setahun bersama pacarnya di rumah kos itu, sebelum keduanya putus akhir tahun lalu.

Sudah biasa jika laki-laki keluar masuk ke kamar-makar kos di tempat itu.

“Kadang laki-laki datang siang, nanti pulang keesokan harinya,” ujarnya.

Bahkan, di rumah kos itu, mengonsumsi minuman keras juga menjadi hal biasa. Ia menuturkan, para anak kos sering pesta miras saat malam Minggu.

“Bapak kosnya juga miras bersama-sama,” kata dia.

Mumun yang dua tahun kos di sana menyatakan, suasana tempat kos itu sangat ramai hingga sulit bagi anak kos menghabiskan waktu sendirian di kamar.

Waktu senggang biasanya diisi dengan main kartu, nyanyi bersama serta masak bersama.

“Ada tradisi jika satu penghuni kos ulang tahun, maka ia traktir seluruh penghuni kos,” ujarnya.

Kebersamaan itu diakuinya memiliki nilai positif. Duka satu penghuni kos juga menjadi duka bersama.

“Saya pernah mengalami masalah berat dengan pacar saya, hampir bunuh diri, untunglah teman-teman menasihati saya. Saya geli karena mereka yang jauh dari Tuhan menasihati saya agar dekat dengan Tuhan,” kata dia.

Meski para anak kos ini diberi kebebasan, namun menurut dia, tidak pernah terjadi keributan berarti di sana. Dia mengaku, pesta miras di sana tak pernah berujung perkelahian. Begitupun, tak pernah terjadi konfik rumah tangga antar penghuni kos.

“Kami semua merasa tak enak dengan Bapak Kos, mereka sudah beri kebebasan, kami malu jika melakukan tindakan berlebihan,” kata dia.

Dikatakannya, bapak dan ibu kos bagai kawan karena mau berbaur. Tapi keduanya juga mau menegur sekiranya mereka berbuat salah.

“Bapak kos sering katakan, boleh sesukanya tapi jangan ribut, yang terpenting jangan terlambat bayar kos,” ujarnya.

DESKRIPSI GAMBAR DESKRIPSI GAMBAR DESKRIPSI GAMBAR Agen Judi Online

Post Author: dunia org