Bikhu Thailand yang Serukan Pembakaran Masjid Ditahan, tapi Islamofobia Malah Meningkat

 

Biksu Apichart Punnajanto ditahan dan diinterogasi oleh polisi Thailand di kamp militer Selasa (19/08) lalu. Ia kemudian dibawa ke Wat Benchamabophit, vihara yang pernah dipimpinnya, untuk dihentikan posisinya sebagai pemuka agama.

Apichart diduga menggunggah video berisi kecaman terhadap Muslim, namun polisi tak menyebut konten video.

Zakee Phithakkumpol dari Institute for Peace Studies, Universitas Prince of Songkla mengatakan langkah pemerintah justru akan menimbulkan dampak negatif karena biksu Apichart terkenal di kalangan kelompok ekstrem Buddha.

“Pemerintah mengharapkan dengan penghentian dia sebagai biksu, agar ia tak lagi mengangkat (kebencian) terhadap Muslim dan menghentikan Islamofobia…Langkah mencopot jubah ini cukup keras dan akan menciptakan dampak negatif dan bukannya positif dari kelompok Buddha,” kata Zakee kepada Duniabola99.org.

Dua tahun lalu, biksu ini mengunggah di akun Facebooknya dan mendesak umat Buddha untuk membakar satu masjid untuk setiap biksu yang terbunuh di Thailand selatan, kawasan konflik dengan penduduk mayoritas Muslim.

“Bila ada biksu Buddha yang meninggal karena ditembak atau karena ledakan di selatan di tangan bandit Melayu, satu masjid harus dibakar dimulai dari utara Thailand ke selatan,” tulisnya saat itu. Istilah “bandit Melayu” mengacu pada kelompok yang melakukan pemberontakan di Thailand Selatan.

Onanong Thippimol, pengamat politik dari Universitas Thammasat, Bangkok, melihat langkah penahanan yang dilakukan pemerintah Thialand untuk mencegah kekerasan lebih lanjut di kawasan selatan.

“Baru-baru ini ada isu bom, penembakan (di Thailand selatan), mungkin pemerintah Thailand tak mau ada masalah…dan status (unggahan) biksu bisa memicu kebencian. Jadi untuk mencegah kekerasan,” kata Onanong.

Namun ia mengatakan langkah pemerintah, terutama terkait memecat status biksu, mendapat banyak kritikan karena dianggap dapat memicu kemarahan kelompok Buddha.

Sunai Phasuk, peneliti senior Human Rights Watch di Thailand melalui akun Twitternya melihat penahanan ini dari kesewenangan militer, “setiap orang menghadapi risiko menjadi korban penggunaan kekuasaan, penahanan rahasia dan prosekusi ilegal.”

Idolanya biksu Myanmar, Wiratu

masjid di thailand

 

Dalam wawancara dengan Newsweek April tahun lalu, biksu berusia 31 tahun ini mengatakan ia mencatat terdapat 20 biksu yang meninggal dan 24 yang terluka sejak 2007 di Thailand selatan. Konflik di kawasan ini berlangsung sejak 2004 dengan korban tewas lebih dari 6500 orang.

Ia mengatakan biksu yang terluka atau terbunuh harus dianggap sebagai serangan agama. “Saya dulu stres mendengar biksu terbunuh atau terluka. Namun kini sudah lewat, hanya balas dendam. Itulah mengatakan saya mengatakan hal itu terkait pembakaran masjid, karena saya ingin balas dendam,” katanya kepada Duniabola99.org.

Hubungan Muslim-Buddha tidak ‘negatif

Kontroversi yang terjadi sejak unggahan “membakar masjid” pada 2015 lalu justru meningkatkan popularitasnya dengan bertambahnya pengikut. Namun akun Facebook Apichart ditutup tak lama kemudian.

Idola Apichart adalah biksu Myanmar, U Wirathu, yang retorika anti-Muslimnya, menimbulkan kerusuhan berdarah pada 2012 dan 2013.

Namun konflik yang terjadi di Rakhine yang menyebabkan ratusan ribu Muslim Rohingya mengungsi ke Bangladesh bukan menjadi faktor di balik kebencian terhadap Muslim.

Pemicu kebencian terhadap penduduk minoritas di Thailand ini karena kejadian di kawasan selatan dan juga isu global, yang lebih mudah diakses, kata Zakee dari Insitut Perdamaian.

Ahmad Omar, Wakil Rektor Universitas Fatoni di Pattani, Thailand selatan juga menekankan tak ada dampak pada kehidupan sehari-hari antara dua komunitas.

“Masyarakat Buddha tak bersikap negatif terhadap masyarakat Islam pada umumnya, tak seperti yang terjadi di Myanmar,” katanya singkat.

Facebook Comments
DESKRIPSI GAMBAR DESKRIPSI GAMBAR DESKRIPSI GAMBAR Agen Judi Online